ABAH

Sebenarnya aku tak merencanakan tulisan ini sebelumnya. Hanya saja kulakukan ini untuk menghilangkan kegelisahanku karena saat ini aku sedang menunggu kelahiran cucu pertamaku, dari anak keduaku yang seorang perempuan.
Terpikir olehku untuk menuliskan sesuatu. Tapi apa? Beribu ide sebenarnya bertumpuk-tumpuk di kepalaku berlomba-lomba untuk keluar tapi tak ada satu pun yang dapat menggerakkan jari jemariku untuk mengetik. Lalu ayahku, yang kami anak-anaknya memanggilnya Abah, menelponku. Ia bertanya tentang cucunya apakah sudah melahirkan cicitnya atau belum.
Abah adalah sosok pendidik. Seumur pengabdiannya menjadi guru. Dia mengajar apa saja. Diusianya yang sekarang sudah memasuki usia 75 tahun, ingatan dan nalarnya masih sangat baik. Abah tidak banyak bicara, tapi dari sorot matanya, kami anak-anaknya sangat paham bahwa Abah adalah seorang yang sangat penyayang, bahkan hatinya terlalu lembut, terlebih bila menghadapi anak-anaknya.
Hingga usiaku sekarang ini tidak pernah Abah meledak-ledak memarahi aku. Marahnya diekspresikannya dalam diamnya. Kemarahannya yang amat sangat pernah kurasakan saat aku memutuskan pindah dari Sumatera Utara untuk ke Jakarta, mengadu nasib bermodalkan kenekadan. Ia sangat marah karena cucunya, anak lelaki pertamaku kupisahkan darinya. Dua tahun aku harus menanggung kemarahannya dalam diamnya. Ia tak mau berbicara denganku.
Pernah aku merasa bahwa Abah bukanlah anak kandungnya. Perasaan itu timbul bila aku marah pada Abah. Marahku juga kuungkapkan dalam diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Terkadang dalam kesendirian aku baru menyadari betapa miripnya aku dengan Abah. Bahkan dari gaya dudukku bila sedang melamun. Aku memang anak Abah.
Aku juga cengeng sama seperti Abah. Gampang meneteskan air mata bila sedih. Dan pertama kali aku melihat Abah menangis adalah pada saat teman-temanku mengadakan perpisahan ketika aku pergi meninggalkan rumah untuk bekerja. Pekerjaan pertamaku. Pekerjaan yang membuatku tidak bisa lagi serumah dengan Abah. Merantau.
Pada hal tidaklah jauh amat. Hanya empat jam perjalanan dengan bis. Tapi itulah pertama kali aku merantau. Dan Abah menangis untuk itu.
Dalam mendidik anak-anakku, aku juga sama seperti Abah. Seingatku, aku hanya pernah memarahi anak-anakku yang berjumlah tiga orang masing-masing sekali sampai saat ini. Itu saja. Tak lebih tak kurang.
Kini, saat aku menanti kelahiran cucuku, aku baru menyadari sepenuh hati betapa Abah menyayangiku. Sama seperti aku menyayangi anak-anakku.

(Jakarta, 8 Maret 2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s