KENAPA SAYA MEMBELA IWAN PILIANG?

Ada teman yang marah ketika saya membela twitan Bung Iwan Piliang tentang calon Presiden Joko Widodo dibandingkan dengan calon Presiden lain yaitu Aburizal Bakrie(ARB) dan Prabowo. Mereka marah dan heran karena yang satu pendukung ARB  dan yang lainnya pendukung Prabowo. Setahu mereka saya ini pendukung sejati Golongan Karya dan tentunya dia berharap saya mendukung ARB. Yang lainnya membujuk saya untuk mendukung Prabowo dengan mengajukan argumen yang kadang membuat saya mengernyitkan dahi sembari menggeleng.

Kembali ke masalah kenapa saya mendukung pendapat Iwan Piliang tentang Joko Widodo.

Terus terang saya tak kenal Iwan, apalagi bertemu. Pernah sekali saya menelponnya tanggal 14 Maret 2014, sekitar jam 11:00. Hari itu adalah hari pengumuman pencapresan Joko Widodo. Cuma itu. Selebihnya kami cuma twit-twitan di Twitterland.

Sejak itu saya makin percaya bahwa informasi yang berasal dari Iwan Piliang adalah informasi A-1. Meski demikian saya tetap mencari dari sumber lain, bukan meragukan tapi untuk menguatkan.

Kenapa saya percaya Iwan? Karena integritasnya. Integritas itu tentu dibangunnya sejak lama, sedikit demi sedikit. Pasti dengan segala hambatan dan rintangan. Tentu apa yang dituliskannya menjadi taruhan bagi integritasnya itu.

Dari segi umur, Iwan beberapa tahun di bawah saya. (Maaf, Bung. Saya mengintip). Tapi umur tidak ada sangkut paut dengan integritas. Saya menghargainya karena apa yang ditulisnya tentu telah melalui kajiian yang mendalam. Itu menambah integritasnya. Dan saya haqqulyaqin bahwa dia tidak akan mempertaruhkan integritasnya itu untuk mendapat jabatan Juru Bicara Presiden, jika Joko Widodo benar-benar menjadi Presiden RI nantinya.

Apakah Iwan tak pantas jadi Jubir Presiden? Sangat pantas! Saya membaca perkenalannya dengan Joko Widodo di tempokini.com. Menarik. Bahkan terkadang menggetarkan hati. Getar hati? Ya, karena yang berperan disini adalah nurani. Benda abstrak yang semua orang memilikinya, tapi acap terselimuti ambisa hingga hati nurani itu tak jelas kemana hilangnya.

Kalau pun Bung Iwan tidak menjadi Jubir Presiden, saya yakin dia tetap akan menulis tentang Joko Widodo. Mungkin juga mengkritiknya. Karena seperti yang saya katakan tadi, ia menulis karena memperjuangkan nurani yang dipercayainya. Nurani yang mengalahkan ambisi. Nurani untuk membuat Indonesia lebih baik.

Sama seperti kita semua, kan?

Ya, kita semua tentu menginginkan Indonesia yang lebih baik. Lebih baik untuk semua kalangan. Dari ujung Sumatera sampai nun Papua. Tak peduli apa pun warna kulitnya. Tak peduli apa pun kepercayaannya. Tak peduli dari mana pun asal usulnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s