SELAMAT JALAN ADIKKU SAYANG

Masih terbayang jelas saat kita bertiga, aku dan dua adikku, Ita dan Ijut berlari-lari berlomba untuk segera tiba di anak sungai untuk mandi. Itu kita lakukan tiap hari, pagi dan sore, bila musim kemarau tiba. Sementara Abah mengiringi kita dari belakang, tertinggal meski tak begitu jauh karena jalan Abah cepat.

Lalu tiba saat itu ketika Ita menelpon lewat tengah malam tanggal 8 September 2014 dan berkata dengan isak tertahan: “Yung, Ijut udah pergi ninggalin kita.” Di dadaku perih berdesir, meski aku tak begitu terkejut, karena entah mengapa sejak ia menelpon kemarin aku sudah merasa itu akan terjadi. Tak tahu mengapa aku merasa bahwa itu adalah ucapannya untuk berpamitan. Aku tak tahu mengapa perasaan itu ada meski aku sudah berusaha untuk menepisnya.

Kenanganku lari ke saat ia masih kecil. Sejak lahir ia mengidap penyakit aneh. Kulit wajahnya tak ada. Abah dan Emak berusaha keras untuk menyembuhkannya dengan berobat ke dokter-dokter ternama di Sumatera Utara. Dari dokter pribumi sampai dokter Belanda. Segala macam obat dicoba, bahkan pernah ia direndam dalam air tembakau, hingga mabok. Tapi akhirnya sembuh juga berkat obat yang diberi oleh seorang sinshe. Obatnya tidak aneh-aneh. Cuma bedak/talk. Tapi tentu saja bukan bedak biasa, tapi bedak yang sudah dibubuhi obat-obat tradisional cina.

Setelah sembuh, mungkin akibat obat-obatan yang pernah diberikan padanya, dia menjadi serba lambat. Ketika kami makan bersama, di saat kami sudah akan nambah, dia baru mulai menyendok nasi ke piringnya. Tapi seperti sudah menjadi kodrat, tiap ada kekurangan, pasti ada kelebihan. Dia paling penyabar dan tak pernah marah, hingga menjadi om favorit bagi semua keponakannya. Dia paling rajin solat. Dulu ketika dia masih SMA, aku masih ingat. Ia akan solat Isya terlebih dahulu sebelum keluar untuk malam mingguan. Beda dengan aku yang begitu usai magrib, langsung terbang.

Meski Abah dan Emak cuma guru, tapi kami anak-anaknya tetap diusahakan untuk kuliah. Ketika tamat SMA, ia langsung menghadap Emak dan bilang: “Mak, awak tak usahlah kuliah. Awak mau langsung kerja aja.”

Begitu katanya. Emak maklum. Dan Emak mendoakannya. Ia kerja dan kami pun makin jarang jumpa. Ia kerja di perusahaan pengembang perumahan. Katanya di bagian keuangan, tapi mengherankan karena ia justru lebih sering berada di lapangan.

Mungkin karena sifatnya yang penyabar itu, ia disenanngi banyak orang. Aku tahu hal ini dari tetangga sebelah rumahku yang bekerja sebagai PNS di kantor Walikota Tebing Tinggi ketika aku masih bekerja di Tanjung Gading. Tetanggaku yang cerewet ini selalu bercerita tentang adikku dengan mata berbinar karena senang.
Aku sendiri sebenarnya saat itu tak begitu dekat dengan adik-adikku karena waktuku habis tersita untuk pekerjaan dan juga hobbyku. Tapi ia tetap saja menjadi adik yang istimewa. Salah satu lagu, yang sampai saat ini menjadi lagu kesayanganku, Sultans of Swing yang dibawakan Dire Straits, aku tahu judulnya dari dia. Saat itu ketika aku pulang ke Tanjung Pura, terdengar lagu itu. Rupanya ia yang membeli kasetnya. Aku sudah pernah mendengar lagu itu, tapi tak tahu judulnya.

Ia juga istimewa karena ia yang sering menelponku ketika aku dan keluargaku sudah pindah ke Depok. Terlebih ketika handphone sudah merajalela. Sesibuk-sibuknya kami, setidaknya sebulan sekali kami saling memberi kabar. Sering kali ketika aku menelponnya, ia sedang berada di luar kota, setidaknya di luar kantor.

Begitulah hingga akhirnya beberapa bulan lalu aku mendengar dari Ita bahwa Ijut dituduh menggelapkan uang kantor. Aku prihatin. Meski tak percaya tapi aku bisa memaklumi bahwa hal itu bisa terjadi kepada siapa saja.

Yang aku tidak suka adalah bos kantornya tidak bisa membuktikan itu. Aku pernah bekerja sebagai Manager yang menangani keuangan dan akunting. Penggelapan itu sebenarnya gampang dibuktikan kalau memang penggelapan itu ada. Yang membuat aku terkejut adalah jumlah yang dituduhkan. Tak ada jumlah pasti. Kadang 7 milyar, di lain hari ku dengar 8 milyar. Wow, jumlah yang fantastis. Kalau benar jumlahnya sedahsyat itu, tentu tidak dilakukan dalam waktu singkat. Pasti memakan waktu lama. Berapa sih uang yang beredar di perusahaan pengembang yang tidak besar-besar amat. Aku berani menjamin, kalau jumlah sebesar itu digelapkan, perusahaan itu langsung gulung tikar! Kalau jumlah itu terakumulasi dalam waktu yang lama, kenapa tidak bisa terdeteksi. Toh katanya tiap bulan ada laporan keuangan. Kalau sang bos adalah bos yang benar dan mengerti tugas dan tanggung jawab pemilik perusahaan, pasti ia sudah bisa mendeteksi sejak lama dengan adanya laporan keuangan itu Toh yang menandatangani cek adalah sang bos. Adikku cuma pegawai keuangan.
Begitulah sampai akhirnya adikku dijemput polisi, tanpa pernah ada surat panggilan. Aku tahu bahwa polisi itu pasti makan duit dari sang bos. Adikku diintimidasi dan diancam. Disuruh mengaku oleh pengacara sang bos. Dimintai duit oleh polisi yang menahannya. Satu juta untuk kamar atau lima juta untuk pulang ke rumah/tahanan luar.

Aku berdiskusi dengan istriku yang seorang pengacara dan biasa menghadapi hal-hal seperti ini. Istriku bilang bahwa banyak hal yang bisa dilakukan untuk membebaskan adikku. Aku langsung meminta saudara-saudaraku di Medan untuk mengcopy semua bukti.
Aku juga menceritakan hal ini dengan seorang teman yang bekerja di Mabes Polri. Beberapa tahun lalu kami sering bersama-sama untuk mengurusi masalah TKI. “Apa perlu aku turun tangan, Bang?” katanya. Aku cuma memintanya untuk siap-siap kalau satu saat aku membutuhkannya.

Tapi semua rencana itu tinggal rencana, meski aku masih belum membatalkan rencana untuk menuntut balik. Telpon dari Ita itu menunda rencana yang telah disiapkan. Padahal sore harinya almarhum masih menelponku. Suaranya masih sama seperti biasa ketika ia menelponku. Tak ada yang berubah. Pagi esoknya aku terkejut karena ia dibawa ke rumah sakit. Dari cerita Ita aku mendapat kabar bahwa adikku terjatuh di kamar mandi. Malam harinya ia berpulang ke Sang Khalik. Allah lebih menyayanginya. DIA yang Maha Adil tak mau adikku menghadapi pengadilan dunia yang tak pernah adil, penuh tipu daya. DIA mau adikku diadili di pengadilanNYA. Pengadilan akhirat.
Tapi aku belum ikhlas. Yang membuatku sakit hati adalah akun facebook palsu yang mengatasnamakan adikku. Akun palsu itu memuat tuduhan-tuduhan, bahkan memposting gambar dan situs porno. Aku sudah bersiap untuk menuntut siapa pun yang membuat akun palsu itu. Aku sudah meng-capture-nya. Menurut temanku yang mendalami IT, akun itu masih bisa dilacak meski sudah dihapus. Akun palsu itu menyakiti hatiku.

Kalau memang ada bukti-bukti yang memberatkan adikku, siapkan saja untuk pengadilan. Tapi tidak perlulah menunjukkan kepengecutan dengan membuat akun palsu itu.

Ini bukan kali pertama aku ditinggal orang yang aku sayangi. Almarhumah istriku aku ikhlaskan di saat ia menghembuskan nafas terakhirnya. Aku mengikhlaskan kepergian adikku, tapi tidak dengan tuduhan-tuduhan dan akun palsu yang ditimpakan kepadanya.

Aku sebenarnya sudah ingin menuliskan cerita ini sejak hari pertama adikku meninggal. Tapi aku tak kuasa menggerakkan jariku untuk mengetik. Aku masih ingin menikmati rasa sakit hati ini. Aku masih ingin menikmati rasa perih dan dendam dalam tiap helaan nafasku. Aku masih ingin menikmati rasa kahilangan di sore saat biasa adikku menelponku.

Sampai di saat setelah Isya tadi aku mendengarkan Brothers In Arms yang dibawakan Dire Straits dari album yang sama dengan lagu Sultans of Swing yang aku sukai, yang dikenalkan kepadaku oleh almarhum, aku mulai mengetik dengan kepedihan irama lagu itu.

Ini dua bait awal dari lagu itu:
These mist covered mountains
Are a home now for me
But my home is the lowlands
And always will be
Some day you’ll return to
Your valleys and your farms
And you’ll no longer burn
To be brothers in arms
But my brother will never return.

Aku menyesal ketika ia mengantarku di Poloniasetahun lalu itu aku tak memeluknya, karena aku tidak punya firasat bahwa itu akan menjadi pertemuan kami yang terakhir.

Selamat jalan adikku, sayang!

Advertisements

One thought on “SELAMAT JALAN ADIKKU SAYANG

  1. Innalillahi wa innaillaihi roji’un..
    Turut berduka cita ya Bang..saya baru tau kabar duka ini..tidak ada teman yg mengabari dari Tanjung, Semoga Allah SWT mengampunkan semua kekhilafannya, menerima semua amal ibadahnya, menempatkan nya ditempat yg terbaik disisi Allah SWT.. Aamiin.YRA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s